RSS

Pulanglah.

Pulanglah, aku sudah menyapu dan mengepel seluruh bagian rumah. Bahkan aku bisa bercermin di lantainya.

Pulanglah, letakkan saja laptop dan tasmu dimeja, biar aku yang merapikan. Ganti bajumu, sudah kusiapkan baju dari lemari diatas kasur. Kamu tinggal mengambil dan pergi mandi.

Pulanglah, aku sudah mencuci dan membersihkan toilet, agar kamu bisa nyaman ketika membersihkan keringatmu.

Pulanglah, aku sudah merapikan kasur, mengganti sarung bantal dan guling, agar kau bisa tidur dengan nyenyak melepas penatmu.

Pulanglah, aku sudah memasak, semoga setelah makan, energi dan semangatmu bisa pulih.

Pulanglah, sarung dan sajadahmu barusan aku cuci dan setrika. Ayo kita sholat berjamaah kemudian bersama-sama berdoa untuk kehidupan yang lebih baik. Jangan lupa ajari aku mengaji, satu ‘ain’ saja tak apa kalau memang kamu sudah lelah.

Pulanglah, mari menonton bola, meskipun aku tidak seberapa suka, tapi teriakan ‘goooolll’-mu cukup membuatku tersenyum.

Pulanglah, temani aku tidur, malam sudah larut, aku tak mau bangun dan sholat subuh sendirian.

Pulanglah, temanmu tadi mencari kerumah, mungkin mengajakmu bermain futsal, entah aku harus menjawab apa. Kamu terlalu sibuk dengan dunia yang memang harus kamu selesaikan secepatnya. Mereka mungkin juga menunggumu menyelesaikan ini, lalu mengajakmu pergi bersama.

Pulanglah, bukankah kamu ingin berkeliling dan travelling ke seluruh bagian negeri tercinta ini? Aku sudah menyiapkan ransel beserta pakaian dan bekal secukupnya untuk keberangkatanmu.

Pulanglah, diluar hujan, serupa dengan hatiku. Deras. Kamu berteduh dimana?

Pulanglah, kemanapun Tuhan menuntunmu pulang. Entah kerumah yang telah kupersiapkan untukmu, atau kerumah yang entah milik siapa.

Pulanglah, aku lelah menunggumu.

 
2 Comments

Posted by on 11 February 2012 in Uncategorized

 

Empon-empon riwayatmu kini …

Dear mama tercinta,

Maaf ma, anakmu ini cuma mau minta maaf. Bukan maksud anakmu ini untuk menyia-nyiakan segala bentuk yang mama berikan. Dan tolong jangan lagi berekspetasi berlebihan. Karena empon-empon dan segala antek-anteknya yang pernah mama bawain dari kapan bulan itu nggak pernah aku sentuh apalagi dibuat masak. Sampai detik ini semuanya masih duduk manis di kulkas kosan. Dan akibatnya adalah sekarang tumbuh tunasnya hahahaha :D

Maaf ma, aku nggak sempet masak yang aneh-aneh sampe pake begituan. Paling pol juga bikin mie atau goreng lauk yang saben minggu udah mama bawain. Lagian kan saban minggu akunya juga pulang. Masih inget kok aku, waktu mama bilang, “Ini nduk tak bawain empon-empon, lombok sama bawang-bawangan bek’e kowe arep masak.” Dan sekarang miris kalo melihat mereka tumbuh subur. Malah jadi nggak tega masakin mereka. Hahaha.

Kecup dari anakmu (yang payah) :*

Oh ya ma, satu lagi, mereka tumbuh dengan subur di dalam kulkas kosan. Unyuu kan? Hahaha. Ini fotonya mereka.

 
3 Comments

Posted by on 25 December 2011 in Absurd

 

Beberapa hari setelah lusa

Mungkin memang lebih baik begini, tidak terlalu sering melihatmu. Meskipun rindu semakin memuncak ditengah detik kehilangan semakin dekat. Kau tahu? Aku bahkan hanya memiliki waktu 3 bulan dari sekarang untuk menginjak maret, hari wisudamu.

Satu kali pandangan satu kali tertusuk, satu kali suara mu yang ku dengar serasa terbang ke langit angan-angan, dan seketika tersadar dan terhempas lagi. Itulah yang membuat aku seringkali membenci pertemuan kita. Kamu menghempaskanku dengan tatapan matamu.

Pernah suatu hari, dimana aku sangat menanti saat bertemu denganmu, aku selalu mengecek motormu di parkiran setiap saat pergantian mata kuliah, berharap kamu masih ada, setidaknya di kota ini. Kemudian ketika kamu benar-benar ada, mulailah aku berharap kamu melemparkan senyuman padaku, apa yang terjadi? Kamu memalingkan wajah, menjauh, kamu katakan “jangan dekat-dekat”. Aku seketika mundur, menundukkan kembali kepalaku, serasa hujan di hatiku.

Besok, lusa atau beberapa hari setelah lusa, seperti biasa aku akan memupuskan harapan, lalu berkata pada hatiku…

Hey hati jangan terbang, tetaplah seperti itu, menunduk tak berdaya.
Jangan kau berharap hey hati, sadari, dia sedikitpun tidak peduli, ini hanya cinta sendiri.

Subuh, Surabaya, 25 November 2011.

 
1 Comment

Posted by on 25 November 2011 in Cerpen Curhat Colongan

 

Salah Sepik!

Berapa banyak sepik (speak) yang disalahartikan sebagai keseriusan?

Berapa banyak kata sayang yang disalahartikan sebagai pacaran?

Berapa banyak jalan berdua yang disalahartikan sebagai kencan?

Berapa banyak makan bareng yang disalahartikan sebagai traktiran jadian?

Berapa banyak nonton berdua yang disalahartikan kalo mau nyari tempat mojok?

Berapa banyak mention di twitter dan tag di facebook yang disallahartikan sebagai kode?

Berapa banyak basa-basi yang disalahartikan sebagai perhatian?

Berapa banyak pesan singkat yang disalahartikan sebagai pendekatan?

Berapa banyak pertanyaaan “Sudah makan belum?” yang disalahartikan sebagai kecemasan?

Berapa banyak pernyataan “Yasudah nggak apa-apa” yang disalahartikan sebagai pengertian?

Berapa banyak pernyataan “Hati-hati ya!” yang disalahartikan sebagai kekhawatiran?

Berapa banyak pertanyaan “Sudah sholat belum?” yang disalahartikan sebagai perhatian religius?

Berapa banyak pernyataan “Kamu lucu deh!” yang disalahartikan sebagai pujian?

Berapa banyak rindu yang disalahartikan kalo pengen ketemu?

Silahkan direnungkan! Berapa banyak? Sebanyak-banyaknya pertanyaan diatas, nggak semuanya selalu berakhir dengan jawaban seperti yang disalahartikan. Makanya hati-hati kalo nyepik atau pas lagi di sepik. Semoga postingan ini nggak ngebuat JLEEEB yang baca. Hehehe.

Enjoy this post yaa :) )

PS : Sepik bermakna dan berasal dari kata speak (Bahasa Inggris). Hehe

 
8 Comments

Posted by on 12 November 2011 in Absurd

 

Tak Terkirim

Assalamualaikum,
Hai Mas (yang selalu sibuk entah apa) …
Apa kabar? Lama ya aku nggak liat kamu sejak sepekan lalu. Sibukkah dengan urusan kuliahmu? Ato lagi sibuk mengerjakan proyek? Alhamdulillah kalo udah bisa berpenghasilan sendiri sebelum kelulusanmu. Emm, jangan heran ya kalo Mas baca pesan ini. Hehehe, sebenernya aku cuma mau cerita, sejak ditolaknya (tidak diterima lebih halusnya) dari detEksi JawaPos dan ITS Online, aku sekarang mulai nyibukkin diri di BE-LM FTSP. Mereka memasukkanku ke departemen dalam negeri. Apa pula itu, aku juga kurang paham dan entah atas dasar apa aku bisa memutuskan masuk disini, yang pasti aku nggak mau semakin membuang-buang waktuku mengurusi hal-hal semacam melamun dan mematung melihati kepergian Mas yang sebentar la …

Tunggu! Kenapa pula aku mengetik itu. Apakah aku berhutang kepadanya untuk berkisah tentang bagaimana kabar dan keadaanku kini? Tidakkah. Apa aku harus melaporkan kepadanya bahwa mulai ada perubahan dalam diriku? Tidakkah. Apakah dia adalah orang pertama yang harus tahu tentangku? Tidakkah. Dia selalu melangkahkan hidupnya tanpa memperhitungkan keberadaanku. Sama sekali tidak pernah memasukkanku sebagai faktor penting penentu pilihannya. Kenapa pula aku memperhitungkannya dalam setiap pilihanku?
Aku sign out.
Kemudian ku posting ini disini.

 
2 Comments

Posted by on 30 October 2011 in Cerpen Curhat Colongan

 

Aqiqah: Di bully ibuk-ibuk se-RT –”

Cerita ini wajib dibaca buat siapapun yang belum pernah dateng ke acara Aqiqah -_-

Hari ini tadi, saya sekeluarga baru pulang dari luar kota. Jam setengah 3-an begitu baru nyampe dirumah terus tiba-tiba nemuin undangan aqiqah tetangga depan rumah. Aqiqah diadain jam 4 hari ini juga. Karena semuanya udah pada capek, maka saya-lah yang menjadi tumbal dateng ke acara ini. Sejujurnya saya juga capeeeek kuadrat kali kuadrat (??) Tapi kalo tetep maksain mama berangkat juga kasian. Belum lagi saya berantem dulu sama kakak saya yang nomor satu buat berangkat. Dan bisa ditebak, saya paling muda sendiri dan saya yang pasti KALAH kalo masalah perang sodara begini.

Jam 4 lebih 5 menit
Ibuk-ibuk tetangga udah pada ngejemput mama saya, tapi yang muncul saya. -_-

“Mama ndak enak badan, Buk. Saya kok yang dateng.”
“Oooh, yawes ayo ndang budal Nduk.”

Pas nyampe dirumah mbak yang nyelenggarain Aqiqah, saya cuma bisa diem aja ditengah para ibuk-ibuk yang bercekikak-cekikik entah ngetawain apa. Kemudian sesekali ikutan “hihihi” padahal nggak ngerti maksudnya apa. -___-

Lanjut. 5 menit kemudian acara dimulai.
“Baiklah ibuk-ibuk, dan para hadirin sekalian .. nanananana .. Yang pertama marilah membaca al-fatihah kemudian membaca diba’ agar ananda blablabla dapat menjadi laalalalala …”

Pas ditengah acara kita para ibuk-ibuk ngebaca diba’ (kita? Ibuk-ibuk? oke, ibuk-ibuk minus saya) tiba-tiba mbak yang abis ngelahirin tadi ngebawa si dedek nya keluar terus dikeliling-kelilingin ke para undangan. Karena posisi berdiri saya pas ngebaca diba’ tadi ada ditengah, jadi saya ngeliatin ibuk-ibuk yang duluan dilewatin mbaknya. Ibuk-ibuk itu satu persatu gantian ngelus kepala nya si dedeknya sambil mengudang-ngudang.

“(deeg!) Mampus, aku ngapain ini nanti kalo mbaknya nyampe didepanku?” (mbatin)

Setelah sampe didepan saya, saya cuma bisa ikut-ikutan ibuk-ibuk buat ngelus kepalanya si dedek sambil meringis nggak ngerti maksudnya apa. Setelah semua ibuk dikelilingin, ada seorang ibuk lagi yang keluar ketengah-tengah kami sambil bawa baskom aluminium isi bunga dan air terus ngebawa gunting dan parfum botolan. Eeeeh, ternyata beberapa ibuk-ibuk yang dateng itu gantian satu-persatu ngeguntingin rambutnya si dedek.

“(deeg!) jangan-jangan ini aku disuruh gunting rambut juga. Kalo guntingnya kena batok kepala gimana?” (mbatin lagi)

Ternyata nggak sampe ke saya. Alhamdulillah, cuma beberapa ibuk-ibuk aja. Sekitar 5 orangan. Setelah pembacaan diba’ selese dan kita duduk lagi, ada 2 orang ibuk-ibuk yang ngebawa baskom alumunium lagi ke tengah-tengah kami.

Ini apaan lagi ini. Sumpah saya yang amatiran dan baru pertama kali dateng ke acara Aqiqah rasanya krik-krik-krik banget. Udah gaulnya sama ibuk-ibuk, sekarang nggak ngerti pula harus ngapain lagi.
Ibuk-ibuk yang ngebawa baskom tadi, mengangkat baskomnya tinggi-tinggi terussssss.

HAAAAAPP!
KROMPYAAAAAANG! -__-
JDAAAAAAARRRR! BRUAAAAAAK!

Bayangin saya aja udah merem pas ibuk-ibuk tadi ngangkat tinggi-tinggi baskomnya, tadinya saya ngira itu adalah air kembang yang bakal disiram ke kita. Ternyata pas disiramin, itu isinya beras kuning sama koin. Terus parahnya, saya diinjek-injek, ditibani sama ibuk-ibuk segede gajah dari belakang, teman-temaaaaan! Sadis nggak sih? Cuma karena bela-belain ngambil koin yang disiram, saya di bully ibuk-ibuk satu RT!

Allahu Akbar -___- Sesuatuuh banget.

Abis gitu mereka ketawa cekikikan lagi sambil pamer banyak-banyakan koin. Nah saya? Boro-boro ambil koin, yang ada menyelamatkan diri dari pem-bully-an ibuk-ibuk yang menginjak-injak tangan saya. OMFG!

Setelah acara siram-siraman dan pembulian berkedok beras kuning, akhirnya kami dikasih makan. Udah nggak nafsu, udah sebel sama ibuk-ibuk tadi. Oke Fine! Mentang-mentang saya ini kecil sendiri, paling muda dan amatiran, jadi seenaknya di bully begitu?

Oke, jadi pelajarannya adalah..

Kalo dateng ke acara Aqiqah mending agak jauhan sama ibuk-ibuk berbadan kebo atau gajah yang mata duitan. Soalnya kalo pas acara nyiram koin dan beras kuning, kalian nggak bakal menderita luka-luka di sekujur tubuh. Dan yang kedua siapin mental aja, karena kadang ibuk-ibuk itu geje dan suka menertawakan sesuatu yang tidak lucu, jadi kalian harus pasang mindset kalo apa yang sedang ditertawakan mereka adalah sesuatu yang lucu buat kalian .. meskipun lucunya maksa!

Sekian dulu yaah. Saya mau hansaplast-in kelingking saya yang diinjek ibuk-ibuk bertipe kebo mata duitan tadi.

*Anyway, selamat buat mbak Novi dan mas Agus atas lahirnya Xavier Adyatma Setiawan. Semoga bisa menjadi anak sholeh yang berguna buat agama, bangsa dan keluarga. Amiin :)

 
Leave a comment

Posted by on 23 October 2011 in Absurd, Random

 

Dukung Komodonya apa Dukung Providernya?

Hari ini ceritanya saya dapet 3 kali sms yang isinya, “Vote Komodo sebagi seven world blablabla cuma satu rupiah, ketik reg spasi komodo kirim ke nananana.”

Dibilang annoying text itu ya nggak terlalu annoying, mau nggak dibilang nggak ngeganggu itu ya tapi ngeganggu. Nah?! Yah secara saya kan jarang dapet sms, kalo nggak jarkom ya nanya tugas, ato kalo nggak gitu ya sms random modus macem mama dikantor polisi dan minta kiriman pulsa. Apa? Melas? Oke fine, nggak papa.

Lanjut.

Setelah dipikir-pikir, dan coba kalian pikir. Berapa rupiah yang bakal diterima sebuah provider ato katakanlah agen-agen telekomunikasi jika semua rakyat Indonesia dari Sabang sampe Merauke ngirim 1 rupiah. Lalu uangnya kemana? Emang mereka (provider) itu mau bikin suaka marga satwa untuk komodo begitu? Semacam penangkaran? Atau mau buka usaha sambilan selain sebagai provider juga sebagai zoo keeper?

Ya kalo menurut saya, nggak perlu lah sms begituan. Mendukung ya mendukung aja. Sekarang kalo dirunut nih ya. Sebuah badan PBB ato apalah yang menentukan layak atau nggaknya sebuah tempat sebagai 7 keajaiban dunia bukan dari donasi yang didapatkan. Namun dari segi pemeliharan dan progress yang udah ada. Kalo toh pulau Komodo atau hewan Komodo direkomendasikan sebagai 7 keajaiban dunia, langkah logis yang dilakukan adalah dengan tindakan langsung dengan cara tidak memburu dengan liar. Terus dirawat dengan bagus, dikasih fasilitas yang memadai. Dan yang pasti, saya yakin kalo kriteria penilaian 7 keajaiban dunia dilihat dari jumlah wisatawan yang masuk dalam kurun waktu tertentu.

Ini Komodo meeeen, ngeliat suaka marga satwa yang SDM nya kurang berpengalaman aja udah bikin ngeri apalago mau jalan-jalan kesana. Udah gitu infrastruktur menuju lokasi Komodo yang nggak banget.

Nah terus hubungannya sama donasi 1 rupiah apa toh? Saya semakin nggak ngerti.

Semacem modus mama minta pulsa lah, dan bedanya modus ini dilakukan dalam skala besar karena sms donasi yang dikirimkan udah berupa sms REG (spasi) Komodo dan dikirim ke 4 digit nomor. You know lah 4 digit nomor pasti ini yang punya bukan sembarang orang. Katakanlah sebuah lembaga atau instansi provider tadi.

Tapi ya gunanya apa? Itu yang patut dipertanyakan sebelum kita mulai menggerakkan jari untuk menekan REG (spasi) Komodo dan dikirim ke nomor tertentu.

Yah itu sih hak setiap manusia juga buat sms atau nggak, tapi seyogyanya kita semua kan udah dewasa, bisa mikir untuk apa sms itu, dikemanakan pulsa itu, dibuat apa dukungan itu, langkah apa yang diambil mereka ketika menerima 1 rupiah itu?

Segala sesuatu yang berembel-embel donasi emang lebih cepat menyebar luas dan berkeuntungan besar, tapi ya gitu, rawan disalahgunakan. Pesen aja sih, jangan sampe kita salah kasih donasi dan dukungan yang ujung-ujungnya nggak tepat sasaran. Kan gitu?

Oke, selamat malam. Sekian.

*Ditulis atas dasar kesebalan karena seharian semua sms isinya donasi untuk dukung Komodo -__-

 

Menunggu Kesempatan

Alhamdulillah yah, saya seneng sekaligus iri ketika ngeliat temen-temen dan sahabat-sahabat saya selangkah lebih jauh dari saya. Mereka didepan saya dan semakin dekat dengan mimpi-mimpinya. Bahkan udah bisa meraih kesempatan yang belum bisa saya raih sekalipun. Mengetahui itu bener-bener bikin hati ini tergetar, antara bahagia mengetahui kebahagian yang telah mereka dapat dan sedih sekaligus iri karena kesempatan itu belum datang untuk saya.

Melihat mereka udah bisa terbang bebas setelah masa pembelajaran terbang dan teknik menukik dalam terik berakhir bener-bener ngebikin saya iri dan bertanya-tanya, kenapa saya masih bingung sendiri meratapi dan diam ditempat?

Meskipun saya sadar semakin saya berdiam ditempat, semakin jauh pula jarak saya dengan mereka. Kapal terbang saya sudah saya rancang sedemikian rupa, teknik menukik saya sudah saya upgrading sejauh saya mampu. Namun saya cukup bahagia, dengan pesawat tempur saya yang telah siap itu.

Tapi apa gunanya kalo pilot ini masih belum mampu menarik tuas kemudi untuk terbang melesat jauh?

Ada kalanya di balik perenungan saya, saya cukup bahagia karena meskipun saya tertinggal dengan teman-teman saya dan kesempatan-kesempatan itu. Tapi faktanya saya juga mampu melewati apa yang pernah saya khawatirkan dan ternyata masih banyak teman-teman saya yang tertinggal jauh.

Lalu saya sedih ketika melihat ada beberapa teman saya yang tertinggal jauh itu. Saya tidak mungkin kembali berbalik menjemput mereka. Saya cuma bisa meninggalkan tanda agar mereka bisa mengikuti arah perjalanan saya. Sekaligus meninggalkan pesan disetiap jejak yang saya pijak, itu semua agar mereka tetap bersemangat dan tidak berputus asa.

Pesan bahwa, “Setiap orang telah memiliki pilihan-pilihan hidupnya, dan pilihan itu memang sangat berat. Jalani saja. Karena pilihan itu yang akan menentukan takdir kedepannya.”

Saya bahagia ketika mereka yang tertinggal juga memiliki kesempatan yang sama dengan saya, dan saya juga akan bahagia ketika kesempatan teman saya yang berada jauh di depan juga bisa saya rasakan. Terlebih-lebih ketika teman tersebut mendoakan saya dari sana untuk kesempatan yang sama suatu saat.

Surabaya, 13 Oktober 2011
Ditulis di Gedung PWK-ITS 103 ketika menunggu dosen kelas Tata Guna Lahan.

 

Selalu ada sesuatu dibalik sesuatu ..

Kemarin hari sabtu (08/10) saya dapet panggilan tes tulis ITS Online, semacem sebuah kantor yang mengurusi segala kegiatan jurnalistik kampus. Misalnya kayak ngurusi website, nulis berita, profil, dll.

Nah ceritanya kemaren tes tulisnya berupa liputan langsung ke lapangan, dan temanya diundi. Kebetulan waktu itu saya dapet tema UKM Maritime Challenge, sebuah UKM yang bergerak di bidang olahraga mendayung.

Alhamdulillah banget pikir saya pas itu, soalnya temen satu kamar saya adalah anak UKM MC. Langsung aja saya minta nomor humas nya. 5 menit kemudian saya sms humas UKM MC dan disuruh langsung hubungi kooridnator UKM nya. Namanya mas Rikki anak teknik perkapalan 2009.

SMS Saya :

“Mas Rikki? Saya Adinda dari ITS Online. Ada waktu buat wawancara nggak mas hari ini? Saya mau nanya masalah UKM MC nih.”

Karena lama banget nggak dibales, akhirnya saya nelpon.

“Halo dengan mas Rikki? Iya mas jadi begini …. blablabla. Bisa ketemu jam berapa mas?”

Akhirnya sesuai kesepakatan, kita ketemu di sekber UKM MC di bekas gedung despo. Ato deket pintu yang ke arah Keputih.

Setelah ngobrol-ngobrol dan pulang, saya sms temen sekamar saya yang anak UKM MC tadi.

“Deb, astaga Deb. Mas nya ganteeeng banget. Manis dan asik banget diajak ngobrol, aku nggak kaku, dan nggak mati gaya.”

Lalu dilanjutkan dengan nggegosipin masnya. wkwkw. (Biasaaalah cewek!) :p

Nah malem ini (10/10) saya pulang ke kosan. Pas capek-capek gitu, temen sekamar saya tadi cerita kalo mas Rikki kemarin cerita ke temennya dia, kalo mau diwawancarain sama ITS Online.

Mas nya itu bilang ke temennya temen saya kalo yang mau wawancarain dia itu cewek, dari suara telponnya cewek itu kalem banget. Nah makanya itu mas Rikki tadi bela-belain mandi setelah latihan fisik di GOR ITS, padahal sebelumnya nggak pernah. Terus dia juga bela-belain pake kemeja plus celana jeans yang you must know, it makes him so cool. Huaaaa serius cakep bener emang.

Dan saya sukses dibikin tersipu-sipu ketika masnya bilang ketemennya temen saya kalo suara saya kalem manis gitu. Huahahahaha rasanya ini perut udah mules saking pengennya ketawa ngakak. Apapun itu kayaknya dia emang cerita ke orang yang salah. Hahaha. Tragis banget, dunia ini sempit bang! wkwk

Nah yang jadi pertanyaan adalah, apakah masnya kecewa dengan saya ketika ketemu saya? Semacam saya tidak semanis suara saya seperti asumsinya wkwkw. Let it go laah.

Oh ya, sekilas info aja. Saya nggak liat nama saya dipengumuman yang lolos ke tahap tes selanjutnya untuk ITS Online. Sedih bangeeeet emang.

But dilihat positifnya aja, saya berarti emang harus berjuang lebih keras lagi. Entah darimanapun penilaiannya semoga ini adalah cara Tuhan untuk membuat saya lebih besar dan mulia nantinya.

Makasih buat kesempatannya untuk ngeliput dan bikin saya punya cerita sama mas itu. Semangaaaat Dindoooo :)

 
5 Comments

Posted by on 10 October 2011 in Cerpen Curhat Colongan

 

Time

How could i go home when my home was you?

Nggak tau kenapa belakangan ini sering sedih-sedih lagi. Hahaha kapan coba saya nggak sedih? Tapi malem ini parah. Entah kenapa tiap bangun tidur mesti kepengen nangis, pas sholat malem juga tambah nangisnya nggak karu-karuan. Apalagi tadi sorean gitu baru balik dari Surabaya, sampe rumah udah langsung tidur dan kebangun pas maghrib. Bangun-bangun nyadar kalo abis mimpiin someone over there lagi. Yang ini bener-bener jelas banget.

Terlepas dari entah apa makna mimpi saya itu, saya sedih banget. Inget kalo waktu saya udah nggak banyak lagi. Dan kehilangan itu udah keliatan di depan mata. Kalo boleh milih, mending saya yang pergi daripada dia yang pergi. Mungkin karena nggak kuat lagi saya jadinya ngomong hal-hal yang nggak ilok kayak gini. Tapi emang jujur kalo saya nggak sanggup lagi. Mau marah juga sama sapa. Nggak bisa juga marah Tuhan gara-gara pertanyaan saya yang belum kejawab sampe sekarang. Ya kalo dirunut emang ini adalah mutlak kesalahan saya. Tapi ya ini bodohnya saya, SAYA SUKA TERLALU DALAM MENYIKAPI HAL-HAL SEPERTI INI.

Dan saya bener-bener pengen diklarifikasi masalah hal ini secepatnya. Sumpah nggak enak banget rasanya di hati. Ngeganjel. Semua udah selese kan? Drama senior junior tingkat institut! Terus sekarang apa? Dengan enaknya semua dianggep angin lalu, sementara disini saya udah kayak mau mati nahan-nahan sebenernya ini kenapa sama kita. Ya seenggaknya kita saling sapa-sapaan lah kayak pertama kali saya masuk dulu.

Jujur aku nggak tahan mas, nggak bisa gini terus. Aku gak bisa sembunyiin terus-terusan. Kalo emang kemudian kamu menjudge aku adalah cewek murahan dan nggak tau diri sekalipun aku rela mas. Karena aku emang udah nggak kuat. Kamu gak tau gimana rasanya aku nahan ini mati-matian.

Kalo emang langkahmu adalah untuk menjauhiku, tolong berhenti sebentar. Ada nggak cara yang bisa bikin kamu berhenti berlari? Semacam aku harus menjadi budakmu? Aku udah nggak kuat jauh dan kehilangan kamu sebentar lagi.

Time flies. Dan jawabanku, firasatku, semuanya masih belum dikasih petunjuk yang jelas sama Allah. Semuanya baru akan jelas, kalo kebekuan ini mencair. Dan aku yakin, sebentar lagi pasti kejawab meskipun aku nggak tau gimana nanti.

 
2 Comments

Posted by on 8 October 2011 in Cerpen Curhat Colongan

 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 207 other followers